Kamis, 16 Juni 2011

Masjid Jami` Sultan Abdurrahman
Kota Pontianak


A. Selayang Pandang
Konon, sebelum Habib Husein Alkadri bertolak dari Hadramaut, Yaman Selatan, menuju kawasan timur, gurunya berwasiat supaya mencari permukiman yang berada di pinggir sungai yang masih ditumbuhi pepohonan hijau. Ketika diangkat menjadi hakim agama Kerajaan Matan dan Kerajaan Mempawah, beliau pun meminta kepada kedua sultan dari kerajaan-kerajaan tersebut untuk dibuatkan sebuah permukiman seperti yang diwasiatkan gurunya.
Pada tahun 1770 M, Habib Husein Alkadri wafat di Kerajaan Mempawah. Tiga bulan kemudian, anak beliau yang bernama Syarif Abdurrahman bersama dengan saudara-saudaranya, sepakat untuk meninggalkan Kerajaan Mempawah dan mencari daerah permukiman baru. Pada tanggal 23 Oktober 1771 M (24 Rajab 1181 H), rombongan Syarif Abdurrahman menemukan lokasi yang sesuai di delta Sungai Kapuas Kecil, Sungai Landak, dan Sungai Kapuas. Setelah delapan hari bekerja menebas hutan, rombongan ini lalu mendirikan tempat tinggal dan sebuah langgar.
Seiring dengan pesatnya perkembangan kawasan tersebut, lambat-laun langgar sederhana itu pun kemudian berubah menjadi masjid. Sultan Syarif Usman (1819-1855 M), sultan ke-3 Kesultanan Pontianak, tercatat sebagai sultan yang pertama kali meletakkan fondasi bangunan masjid sekitar tahun 1821 M/1237 H. Bukti bahwa masjid tersebut dibangun oleh Sultan Syarif Usman dapat dilihat pada inskripsi huruf Arab yang terdapat di atas mimbar masjid yang menerangkan bahwa Masjid Jami‘ Sultan Abdurrahman dibangun oleh Sultan Syarif Usman pada hari Selasa bulan Muharam tahun 1237 Hijriah. Berbagai penyempurnaan bangunan masjid terus dilakukan oleh sultan-sultan berikutnya hingga menjadi bentuknya seperti yang sekarang ini.
Untuk menghormati jasa Sultan Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadri, pendiri Kota Pontianak dan sultan pertama Kesultanan Pontianak, masjid yang berada di sebelah barat Istana Kadriah itu pun diberi nama Masjid Jami‘ Sultan Abdurrahman.
B. Keistimewaan
Masjid yang memiliki panjang 33,27 meter dan lebar 27,74 meter ini merupakan masjid tertua dan terbesar di Pontianak. Masjid yang undak (seperti tajug ala arsitektur Jawa) paling atasnya mirip mahkota atau genta besar khas arsitektur Eropa ini menjadi saksi sejarah perubahan demi perubahan yang terjadi di Kota Pontianak dan sekitarnya.
Mayoritas konstruksi bangunan masjid terbuat dari kayu belian pilihan. Dominasi kayu belian masih dapat dilihat pada pagar, lantai, dinding, menara, dan sebuah bedug besar yang terdapat di serambi masjid. Enam tonggak utama (soko guru) penyangga ruangan masjid yang berdiameter 60 sentimeter juga terbuat dari kayu belian. Konon, tonggak-tonggak tersebut telah berusia lebih dari 170 tahun. Selain enam tonggak utama, terdapat empat belas tiang pembantu yang berfungsi sebagai penyangga ruangan masjid.
Pengaruh arsitektur Eropa terlihat pada pintu dan jendela masjid yang cukup besar, sedangkan pengaruh Timur Tengah terlihat pada mimbarnya yang berbentuk kubah.
Seperti bangunan rumah Melayu pada umumnya, masjid ini juga memiliki kolong di bawah lantainya. Meski persis berada di atas air Sungai Kapuas, masjid ini tidak pernah kebanjiran karena fondasi masjid berjarak sekitar satu setengah meter di atas permukaan tanah.
C. Lokasi
Masjid Jami‘ Sultan Abdurrahman terletak di Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Masjid ini hanya berjarak sekitar 200 meter di sebelah barat Istana Kadriah.
D. Akses
Masjid Jami‘ Sultan Abdurrahman berada di dekat pusat Kota Pontianak. Lokasi masjid dapat dijangkau melalui jalur sungai dan jalur darat. Pengunjung yang memilih jalur sungai dapat mengaksesnya dengan menggunakan sampan atau speed boat dari Pelabuhan Senghie, sedangkan pengunjung yang menggunakan jalur darat dapat naik bus yang melewati jembatan Sungai Kapuas.
E. Harga Tiket
Pengunjung tidak dipungut biaya.
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Di kawasan Masjid Jami‘ Sultan Abdurrahman terdapat pramuwisata, pendopo tempat istirahat, dan toilet. Di sekitar kawasan tersebut juga terdapat restoran terapung, warung makan, kios wartel, voucher isi ulang pulsa, sentra oleh-oleh dan cenderamata, serta persewaan sampan dan speed boat untuk mengelilingi kawasan masjid.
Istana Muliakarta
Kabupaten Ketapang


A. Selayang Pandang
Istana Muliakarta merupakan Istana Kesultanan Tanjungpura/Kesultanan Matan, kesultanan tertua yang terdapat di Provinsi Kalimantan Barat. Dinamakan Istana Muliakarta karena istana ini berada di dalam wilayah administratif Desa Muliakarta. Selain itu, istana ini juga dikenal dengan nama Istana Panembahan Gusti Muhammad Saunan, yang diambil dari nama salah seorang sultannya yang terkenal dengan kewibawaan dan kecerdasannya.
Istana Muliakarta pertama kali dibangun oleh Pangeran Perdana Menteri yang bergelar Haji Muhammad Sabran, sultan ke-14 Kesultanan Tanjungpura, yang bertahta dari tahun 1845 sampai dengan tahun 1924. Namun, istana ini terus mengalami renovasi dan rekonstruksi beberapa kali, sehingga menjadi seperti yang terlihat sekarang ini. Panembahan Gusti Muhammad Saunan (1908-1944), sultan ke-16, adalah sultan yang merombak istana tersebut secara besar-besaran. Panembahan Saunan mengganti arsitektur Istana Muliakarta dengan gaya arsitektur Eropa karena beliau pernah studi di Belanda dan tinggal cukup lama di Negeri Kincir Angin tersebut.
Keberadaan Istana Muliakarta tentu tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang Kesultanan Tanjungpura yang senantiasa berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lainnya. Akibatnya, Istana Kesultanan Tanjungpura pun tersebar di berbagai daerah di Kalimantan Barat. Selain di Muliakarta, istana kesultanan ini juga terdapat di Sukadana, Tanjungpura, Matan, dan Indralaya. Namun, hanya sebagian kecil saja dari istana-istana tersebut yang masih utuh dan dapat dilihat sampai hari ini.
B. Keistimewaan
Keanggunan istana yang mayoritas konstruksi bangunannya terbuat dari kayu belian/ulin (euderoxylon zwageri) ini sudah dapat dilihat dan dirasakan dari jauh. Warna kuning yang mendominasi bangunannya menjadikan istana tersebut kian anggun dipandang mata. Dalam tradisi masyarakat Melayu, warna kuning merupakan lambang kewibawaan dan keluhuran budi pekerti.
Gapuranya yang artistik dan cantik dengan dominasi warna kuning seakan memberi tanda kepada pengunjung, bahwa istana ini dibangun dengan konsep yang matang dan melalui serentetan perenungan yang mendalam, sehingga istana ini sarat dengan makna filosofis. Gapura tersebut juga merupakan simbol keramahan segenap penghuni istana dan sekaligus menandakan bahwa istana tersebut terbuka bagi semua kalangan.
Suasana sejuk dan damai sudah terasa begitu menginjakkan kaki di kompleks istana. Bunga-bunga yang tertata rapi dalam jambangan dan aneka pohon yang tumbuh di sekeliling istana memperlihatkan penghuninya punya komitmen hidup selaras dengan alam.
Di sebelah kiri jalan masuk, terdapat sebuah menara yang dahulunya berfungsi sebagai pos penjagaan istana. Meriam Padam Pelita, salah satu senjata peninggalan kesultanan, terdapat di halaman istana. Pada bumbungan atap bagian depan istana, terpampang mahkota kerajaan yang berukiran detail dan artistik.
Di ruangan dalam istana, terdapat balai pertemuan (balairung), kantor tempat kerja sultan, dan tiga kamar yang dahulunya digunakan sebagai tempat tinggal sultan bersama keluarganya. Berbagai koleksi istana, seperti singgasana sultan dan permaisurinya, foto sultan dan keluarganya, kain tenun khas kerajaan, tempat tidur Panembahan Gusti Muhammad Saunan, aneka batik kuno, serta benda-benda dan peralatan-peralatan peninggalan Kesultanan Tanjungpura lainnya, tersimpan dengan baik di dalam istana.
Pada sore hari, pengunjung akan berdecak kagum dengan pesona Istana Muliakarta yang eksotik, apalagi dilihat dari atas perahu yang berjalan perlahan-lahan di atas Sungai Pawan yang tenang.
C. Lokasi
Istana Muliakarta terletak di Desa Muliakarta, Kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.
D. Akses
Kabupaten Ketapang berada di sebelah selatan Kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat. Dari Pontianak menuju Ketapang, pengunjung dapat naik kapal laut ekspres dengan waktu tempuh sekitar 7 jam.
Dari pusat Kota Ketapang, Istana Muliakarta berjarak sekitar 10 kilometer. Pengunjung mudah mengaksesnya dengan menggunakan bus, angkutan kota, atau kendaraan pribadi.
E. Harga Tiket
Masih dalam proses konfirmasi.
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Di sekitar kawasan Istana Muliakarta terdapat berbagai fasilitas, seperti masjid, warung makan, pramuwisata, kios wartel, voucher isi ulang pulsa, sentra oleh-oleh dan cenderamata, serta persewaan sampan dan speed boat untuk mengelilingi kawasan istana.
Istana Alwatzikhoebillah di Sambas
Kabupaten Sambas


A. Selayang Pandang
Sejarah Istana Alwatzikhoebillah tidak terlepas dari sosok Sultan Tengah, seorang pangeran dari Kesultanan Brunei yang kemudian diangkat menjadi sultan di Kesultanan Serawak. Sejarah berawal ketika Sultan Tengah beserta rombongannya, setelah melakukan kunjungan persahabatan (muhibah) ke Kesultanan Johor, Malaysia, singgah di Kerajaan Matan, Tanjungpura. Di Matan, beliau disambut dengan hangat oleh raja Matan, Panembahan Giri Kusuma, yang di kemudian hari masuk Islam dan bergelar Sultan Muhammad Syafiuddin (1631-1668). Sultan Tengah tertarik mendalami agama Islam pada Syekh Syamsuddin dari Mekah yang menyebarkan Islam di Matan. Tak lama kemudian, Sultan Tengah menikah dengan Ratu Surya Kusuma, adik Sultan Muhammad Syafiuddin.
Setelah beberapa lama tinggal di Matan, Sultan Tengah memboyong keluarganya ke Kota Bangun, yang berdekatan dengan Kota Lama, ibu kota Kerajaan Sambas. Di Kota Bangun ini, beliau melakukan dua hal penting yang kelak menjadi cikal-bakal berdirinya Kesultanan Sambas dan Istana Alwatzikhoebillah, yaitu menyebarkan agama Islam sampai ke Kota Lama dan menikahkan puteranya, Raden Sulaiman, dengan Mas Ayu Bungsu, puteri Ratu Sepudak dari Kerajaan Sambas. Konon, pada masa raja yang memiliki darah keturunan Majapaht inilah ibu kota Kerajaan Sambas dipindahkan dari Paloh ke Kota Lama.
Terbukti, strategi yang dijalankan Sultan Tengah tersebut berhasil, yaitu beralihnya Kerajaaan Sambas Hindu menjadi Kesultanan Islam dan diangkatnya Raden Sulaiman menjadi pembantu sultan (wazir). Namun karena sebuah fitnah, akhirnya Raden Sulaiman tersingkir dari Kota Lama dan kembali lagi ke Kota Bangun.
Setelah berhasil membangun Kota Bangun, bahkan lebih maju dari Kota Lama, keluarga Sultan Tengah yang dipimpin oleh Raden Sulaiman, memutuskan pindah ke Lubuk Madung, yang merupakan pertemuan Sungai Subah, Sungai Sambas Kecil, dan Sungai Teberau. Kemudian, di tempat itu didirikan Istana Alwatzikhoebillah dan di istana tersebut Raden Sulaiman dinobatkan sebagai sultan pertama Kesultanan Sambas dengan gelar Sultan Muhammad Syafiuddin.
Namun, Istana Alwatzikhoebillah yang terlihat sekarang ini, baru dibangun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin (1931-1943), sultan ke-15 Kesultanan Sambas. Pembangunan istana tersebut relatif singkat, yaitu dari tahun 1933 sampai tahun 1935. Konon, biayanya yang mencapai 65.000 gulden itu merupakan pinjaman dari Kesultanan Kutai Kartanegara.
Sejak bulan Februari 2008, pemangku Istana Alwatzikhoebillah dipercayakan kepada Pangeran Ratu M. Tarhan Winata Kesuma.
B. Kestimewaan
Kuno tapi terawat dengan baik. Hijau dan sejuk. Begitulah kira-kira kesan yang muncul ketika menginjakkan kaki di Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas ini. Untuk memasuki area istana, pengunjung akan melewati dua buah gapura. Gapura pertama merupakan pintu gerbang untuk memasuki alun-alun dan sekaligus pembatas jalan umum dengan area istana, sedangkan gapura kedua membatasi alun-alun dengan halaman istana.
Dari gapura pertama, pengunjung dapat melihat betapa rapinya tata letak seluruh bangunannya. Di sebelah kanan alun-alun, pengunjung dapat melihat keanggunan Masjid Jami‘ Sultan Syafiuddin, masjid Kesultanan Sambas. Di bagian belakang alun-alun, pengunjung dapat melihat sebuah tiang seperti tiang kapal yang dikelilingi oleh tiga buah meriam dan disangga oleh empat tiang. Secara filosofis, tiga meriam tersebut melambangkan tiga buah sungai yang terdapat di sekitar istana yang harus selalu dijaga. Empat tiang penyangganya melambangkan empat menteri sebagai pembantu sultan. Sedangkan dua tiang penyangga yang terletak di sisi kiri dan kanan tiang itu melambangkan bahwa dalam menjalankan roda pemerintahannya sultan selalu didampingi oleh ulama dan khatib.
Dari gapura kedua, pengunjung dapat melihat tiga bangunan istana dengan dominasi warna kuning sebagai warna khas Melayu yang melambangkan kewibawaan dan keluhuran budi pekerti. Persis di sisi kanan dan kiri gapura kedua, terdapat dua balai pertemuan yang dahulunya digunakan sebagai tempat untuk menerima tamu kehormatan sebelum bertemu dengan sultan. Sekarang, dua balai pertemuan tersebut difungsikan sebagai tempat bedug.
Bangunan utama istana terletak di tengah-tengah dan memiliki ukuran paling besar. Di sayap kiri dan kanannya, terdapat bangunan pendukung yang terhubung langsung dengan bangunan utama istana. Bangunan sayap kiri dahulunya digunakan sebagai tempat untuk menjamu tamu-tamu kehormatan, sedangkan bangunan sayap kanan digunakan untuk mempersiapkan segala keperluan sultan dan keluarganya. Sekarang, bangunan sayap kiri tersebut digunakan sebagai tempat untuk menyimpan benda-benda pusaka kesultanan.
Bagian dalam istana terdiri dari tiga ruangan, yaitu ruangan depan, tengah, dan belakang. Ruangan depan merupakan tempat singgasana sultan dan permaisuri. Di sini, pengunjung dapat melihat foto-foto para sultan dan pakaian kebesaran kesultanan. Ruangan tengah terdiri dari empat kamar yang dahulunya merupakan kamar sultan dan keluarganya. Di ruangan ini, pengunjung dapat melihat foto-foto sultan bersama keluarganya, tamu-tamu kehormatan, dan acara-acara kesultanan. Sedangkan ruangan belakang yang berukuran paling kecil, terlihat kosong.
Selain itu, pengunjung dapat melihat bekas kolam pemandian keluarga sultan di samping kanan istana dan rumah kediaman keluarga sultan yang berada di belakang istana.
Pada sore hari, pengunjung akan berdecak kagum melihat pesona istana ini yang eksotik, apalagi dilihat dari atas perahu yang berjalan perlahan-lahan di atas Sungai Sambas Kecil.
C. Lokasi
Istana Alwatzikhoebillah terletak di Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.
D. Akses
Kabupaten Sambas berjarak sekitar 225 kilometer di sebelah utara dari Kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat. Dari Pontianak, pengunjung dapat naik bus sampai Sambas dengan waktu tempuh sekitar lima jam. Dari pusat Kota Sambas, pengunjung dapat naik bus atau minibus menuju Istana Alwatzikhoebillah.
E. Harga Tiket
Pengunjung tidak dipungut biaya.
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Di sekitar kawasan Istana Alwatzikhoebillah, terdapat berbagai fasilitas, seperti masjid, warung makan, pramuwisata, kios wartel, voucher isi ulang pulsa, sentra oleh-oleh dan cenderamata, serta persewaan sampan dan speed boat untuk mengelilingi kawasan istana.
Makam Raja-raja Landak
Kabupaten Landak


. Selayang Pandang
Kompleks Istana Kerajaan Landak yang terletak di Kota Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, memiliki tiga elemen utama, yakni Istana Ismahayana Landak, masjid Djami‘ Keraton Landak, serta makam para sultan Kerajaan Landak dan kerabatnya. Dirasa tak lengkap, bila wisatawan tidak mampir berziarah ke makam raja-raja Landak ketika berkunjung ke kompleks Keraton Landak. Makam para sultan dan para kerabatnya terletak di sebelah barat Masjid Djami‘ Keraton Landak.
Latar sejarah Kerajaan Landak yang pernah berpindah tempat sebanyak tiga kali, membuat lokasi makam ketiga puluh delapan raja kesultanan ini berbeda-beda. Selain di Kota Ngabang, di Ayu Mungguk juga terdapat makam Sultan Raden Abdulkahar atau Raden Ismahayana (1472—1542 M). Makam raja Landak yang pertama kali menganut ajaran Islam tersebut berada di atas bukit dan terletak sekitar 7 km dari Kota Ngabang. Saat ini, makam Raden Ismahayana masih terawat dengan baik, meski diperkirakan telah berusia lebih dari 400 tahun. Sementara itu, makam raja lainnya terletak di daerah Bandong, sebuah kota berjarak kurang lebih 24 km dari Kota Ngabang.
Secara umum, kondisi makam para raja Landak di Ngabang yang telah berusia lebih dari 250 tahun sejak Raden Anom Jaya Kusuma (wakil raja yang memboyong putra mahkota, Raden Nata Muda Pangeran Sanca Nata Kusuma [raja Landak ke-16] hijrah ke Ngabang dari ibu kota lama, Bandong, pada tahun 1768) mangkat pada akhir abad ke-18 ini kurang terawat. Hal ini dapat dilihat dari tingginya rumput liar yang tumbuh subur di sekitar makam. Sama halnya dengan papan-papan nama tiap nisan yang mulai kabur akibat terik matahari dan guyuran air hujan. Kendati demikian, makam ini tetap merupakan sebuah situs sejarah Keraton Landak yang pantas dirawat dan dilestarikan agar dapat dikunjungi wisatawan maupun para peziarah. Lestarinya makam ini tidak hanya akan bermanfaat bagi pariwisata daerah Landak, melainkan juga berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan, terutama bidang sejarah dan arkeologi.
B. Keistimewaan
Tidak hanya sebatas nilai-nilai sejarah saja yang dapat diperoleh ketika Anda mengunjungi situs makam raja-raja Kesultanan Landak ini. Melainkan, di makam seluas ± 700 m² ini, Anda akan menangkap suasana atau atmosfer yang tenang, hening, agar kemudian dapat secara khusyuk merenungkan bagaimana perjuangan mereka sebagai pemimpin masyarakat Landak ketika melawan kebengisan penjajah Belanda dan kekejaman tentara Jepang.
Makam ini khas, dengan bentuk tiap nisan yang menandakan perbedaan antara makam laki-laki dan perempuan. Nisan berbentuk bulat untuk laki-laki, sedangkan makam perempuan bernisan pipih. Beberapa nisan terbuat dari kayu belian dan sebagian yang lain dari batu. Nisan raja berwarna kuning keemasan, sementara untuk kerabat keraton bukan raja berwarna biru muda dan sebagian berwarna putih.
Oleh sebagian orang, kompleks pemakaman raja Landak ini dianggap keramat dan bertuah. Bagi yang meyakininya, makam ini dianggap sebagai tempat mustajab untuk berdoa dan dapat mendatangkan berkah.
C. Lokasi
Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kompleks Keraton Landak, makam raja-raja Landak dan para kerabatnya ini terletak ± 120 m² di sebelah barat Masjid Djami` Keraton Landak. Atau, berada di Jalan Pangeran Sancanata Kusuma, kompleks Istana Kesultanan Landak, Desa Pedalaman, Kota Ngabang, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.
D. Akses
Dari terminal bus ibu kota Kabupaten Landak, Ngabang, wisatawan dapat naik ojek yang mangkal di sekitar terminal dengan ongkos berkisar Rp 6.000 (September 2008) untuk menuju ke kompleks Keraton Landak.
E. Harga Tiket
Pengunjung tidak dipungut biaya ketika berziarah ke Makam Raja-raja Landak ini.
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Bagi Anda yang menyempatkan berziarah ke makam raja Landak di Ngabang akan didampingi oleh seorang pemandu wisata sebagai rangkaian kunjungan ke Istana Ismahayana Landak. Dari pemandu ini, Anda akan memperoleh pelbagai kisah tentang kompleks makam raja-raja dan beberapa kerabatnya ini karena sang pemandu masih keluarga keraton.
Selain itu, juga tersedia kamar kecil dan masjid sebagai fasilitas wisatawan. Bila ingin mencari rumah makan dan penginapan, maka kunjungilah pusat Kota Ngabang yang berjarak ± 2 km dari Makam Raja-raja Landak ini. Di pusat kota, berbagai fasilitas yang memadai bagi wisatawan dapat dengan mudah ditemukan.
Masjid Djami Keraton Landak
Kabupaten Landak


A. Selayang Pandang
Masjid merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah kompleks istana pada setiap kerajaan Islam atau kesultanan di Asia Tenggara. Sama halnya dengan kompleks Keraton Landak yang terletak di Kota Ngabang, Ibu Kota Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Kompleks keraton milik Kerajaan Landak ini terdiri dari tiga bagian yang saling melengkapi, yakni istana kerajaan, masjid, serta makam raja dan para kerabatnya.
Terletak di utara istana, Masjid Djami‘ Keraton Landak tampak anggun dan sederhana. Masjid ini masih terawat dengan baik sampai sekarang. Sejarah masjid ini bermula sejak masa pemerintahan Panembahan Gusti Abdulazis Kusuma Akamuddin (1895—1899) atau raja Landak ke-21.
Pada awalnya, Masjid Djami‘ Keraton Landak terletak di tepi Sungai Landak atau di timur istana. Kemudian, beliau memerintahkan agar masjid yang dibangun dengan bahan utama kayu belian khas Kalimantan ini dipindahkan ke sebelah utara istana. Bangunan masjid yang lama kini sudah tidak ada lagi. Saat ini, lokasi masjid lama telah menjadi sebuah kompleks pondok pesantren untuk belajar agama Islam bagi anak-anak di sekitar istana.
Kala itu, setelah masjid dipindahkan ke utara istana, Bilal Achmad menjadi Maha Sultan Imam masjid sampai masa pemerintahan Panembahan Gusti Abdulhamid (1922—1943) atau Sultan Landak ke-22. Selanjutnya, Bilal Achmad digantikan oleh Osu Anang dari Banjor hingga Jepang berkuasa di Kalimantan Barat pada medio tahun 1943.
Sebagai cagar budaya dan situs sejarah, masjid ini telah beberapa kali mengalami renovasi yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1980-an dan pemerintah daerah pada tahun 2000-an.
B. Keistimewaan
Di Masjid Djami‘ Keraton Landak yang memiliki luas bangunan sekitar 400 m2 ini, wisatawan akan menangkap nuansa religiositas masyarakat muslim di Desa Pedalaman yang berada di sekeliling kompleks istana.
Apabila Anda mengunjungi masjid ini di kala hari melangkah senja, saat lazuardi di ufuk barat mulai memerah dan menjelang adzan magrib berkumandang, tampak orang-orang mulai mendatangi masjid. Orang tua, pemuda-pemudi, para santri pesantren yang tak jauh dari istana, serta anak-anak kecil berjalan dari berbagai arah dan satu demi satu menuju pintu masjid yang menghadap ke timur. Di dalam masjid itu, jamaah puteri menempati bagian kiri yang disekat dengan tirai kain berwarna putih. Sementara, jamaah laki-laki membuat shaf di bagian tengah depan dan diikuti anak-anak di belakang barisan laki-laki dewasa. Mereka tampak khusuk melaksanakan solat magrib. Selesai sembahyang, sebagian dari mereka biasanya meluangkan waktunya untuk berdzikir sejenak.
Memasuki masjid ini, wisatawan akan mendapati konstruksi bangunan masjid yang tampak sederhana namun kokoh. Dengan kayu belian sebagai unsur utama dan atap sirap yang berbahan serupa, masjid yang memiliki empat pilar dari kayu utuh ini tetap memesona. Hal ini lantaran di tiap sudutnya nampak dihiasi ornamen-ornamen dari kayu berukir ayat-ayat suci Al-Quran dan motif-motif khas Melayu. Perpaduan warna biru muda dan putih gading pada dinding dan pilar-pilar masjid juga menambah sejuk gambaran keseluruhan masjid.
C. Lokasi
Masjid Jami‘ Keraton Landak berada di Jalan Pangeran Sancanata Kusuma, kompleks Keraton atau Istana Kesultanan Landak yang terletak di Desa Pedalaman, Kota Ngabang, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.
D. Akses
Dari terminal bus Ngabang, Kabupaten Landak, wisatawan dapat naik ojek yang mangkal di sekitar terminal dengan ongkos sekitar Rp 6.000,- (September 2008) untuk menuju ke kompleks Keraton Landak. Sesampainya di kompleks ini, pengunjung hanya perlu berjalan sekitar 50 meter ke arah utara dari bangunan Istana Keraton Landak.
E. Harga Tiket
Wisatawan tidak dipungut biaya alias gratis. Namun, bila pengunjung ingin menyisihkan sedikit uang untuk berbagai keperluan perawatan masjid, maka disediakan kotak infak yang terletak di dekat pintu masuk Masjid Djami‘ Keraton Landak.
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Sebagai bagian dari kunjungan ke Istana Keraton Landak, pelancong yang mengunjungi masjid besar kesultanan Landak ini akan mendapatkan pelayanan pemandu wisata. Sang pemandu akan menceritakan dengan baik bagaimana sejarah masjid ini. Selain itu, wisatawan akan mendapati keterangan-keterangan singkat mengenai seni rancang-bangun masjid ini darinya.
Tidak jauh dari masjid, pelancong yang ingin mengusap muka dengan air karena panasnya suhu udara di sana, disediakan air pada kran-kran yang biasa dipakai untuk berwudu. Di samping tempat itu, juga ada toilet yang dapat digunakan gratis bagi wisatawan yang memerlukan.
Vihara Tri Dharma Bumi Raya
Kota Singkawang


A. Selayang Pandang
Vihara Tri Dharma Bumi Raya adalah vihara tertua di Kabupaten Singkawang yang diperkirakan telah berusia 200 tahun. Penduduk setempat menyebut Vihara Tri Dharma Bumi Raya dengan sebutan Tai Pak Kung (Toa Pekong). Vihara yang terletak di pusat Kota Singkawang ini merupakan salah satu ciri khas dan cikal bakal berdirinya Kota Singkawang.
Tahun pembuatan vihara ini belum ditemukan secara pasti. Namun menurut Komunitas Tionghoa Singkawang, usia Vihara Tri Dharma Bumi Raya setara dengan sejarah keberadaan komunitas Tionghoa Singkawang yang telah berusia lebih dari 200 tahun. Pada tahun 1933, Vihara Tri Dharma Bumi Raya diperluas dan dibangun. Namun pada tahun 1936, Vihara Tri Dharma Bumi Raya sempat terbakar sehingga dilakukan direnovasi.
Vihara yang terletak tepat di jantung Kota Singkawang ini dipercaya sebagai tempat berdiamnya Dewa Bumi Raya. Dewa ini dipercaya oleh etnis Tionghoa sebagai dewa yang menjaga Kota Singkawang. Atas dasar kepercayaan tersebut, maka masyarakat Tionghoa di Kota Singkawang dan sekitarnya juga mengadakan semacam ulang tahun bagi Dewa Bumi Raya yang dihelat setiap tanggal 6 bulan 6 (6 Juni) pada setiap tahunnya. Belum diketahui secara persis penanggalan ulang tahun tersebut pertama kali dimulai.
Kesan tua sekaligus magis langsung terlihat begitu kita masuk ke Vihara Tri Dharma Bumi Raya. Meskipun tidak semegah Vihara Budha Tri Darma, tapi kesan sakral yang dimunculkan di vihara ini akan langsung didapatkan begitu kita melangkah kaki memasuki pintu vihara.
Bangunan vihara jelas menampakan kesan tua. Dinding dan kayu penyangga ruangan juga memunculkan kesan bahwa vihara ini mempunyai usia yang cukup panjang. Sedikitnya umur vihara ini telah mencapai 100 tahun, demikian disampaikan oleh salah satu pengurus vihara.
Vihara ini hanya mempunyai satu lantai yang merupakan pusat dari segala aktivitas keagamaan. Misalnya upacara sembahyang yang dilakukan pada setiap hari pada waktu sore. Salah satu perangkat upacara yang sangat penting adalah keberadaan patung Pek Kong.Menurut pengurus Vihara Tri Dharma Bumi Raya, patung yang terbuat dari kayu ini didatangkan langsung dari Cina. Terdapat tiga pasang Patung Pek Kong yang ada di Vihara Tri Dharma Bumi Raya ini.

B. Keistimewaan
Vihara Tri Dharma Bumi Raya adalah vihara tertua di Singkawang. Predikat inilah yang kemudian membuat Vihara Tri Dharma Bumi Raya dijadikan sebagai pusat kegiatan dalam Perayaan Cap Go Meh, yaitu perayaan masyarakat Tionghoa yang turun ke jalan pada hari ke-14 sampai 15 setelah tahun baru Imlek atau diagendakan setiap tanggal 28 Februari. Perayaan Cap Go Meh bertujuan untuk membersihkan kampung.
Dalam Perayaan Cap Go Meh berbagai macam Tatung/ Louya diarak keliling kampung. Khusus di Kota Singkawang, Vihara Tri Dharma Bumi Raya menjadi pusat berkumpulnya berbagai macam Tatung/ Louya yang bertujuan untuk menyembah para dewa pada Perayaan Cap Go Meh. Nilai keistimewaan yaitu berupa anggapan sebagai vihara tertua di Singkawang membuat Vihara Tri Dharma Bumi Raya menjadi pusat kegiatan dari perayaan Cap Go Meh setiap tahunnya di Singkawang.
Selain sebagai pusat kegiatan pada perayaan Cap Go Meh, Vihara Tri Dharma Bumi Raya juga mempunyai koleksi patung Pek Kong yang ditengarai telah berusia diatas angka 100 tahun. Menurut pengelola vihara, patung yang terbuat dari kayu ini didatangkan langsung dari Tiongkok.
C. Lokasi
Vihara Tri Dharma Bumi Raya terletak di Jalan Pasar Tengah (Jalan Sejahtera), Kota Singkawang.
D. Harga Tiket
Pengunjung yang akan singgah di Vihara Tri Dharma Bumi Raya tidak dipungut biaya.
E. Akses
Lokasi Vihara Tri Dharma Bumi Raya yang berada di pusat Kota Singkawang sangat memudahkan bagi pengunjung yang mempunyai agenda untuk singgah di tempat ini. Bagi pengunjung yang menggunakan kendaraan pribadi bisa langsung meluncur ke lokasi dengan tujuan ke Jalan Pasar Tengah, Kota Singkawang.
F. Fasilitas dan Akomodasi Lainnya
Sebagai salah satu tempat wisata sejarah, Vihara Tri Dharma Bumi Raya menawarkan nuansa sakral sekaligus magis. Kesan ini muncul sehubungan dengan keadaan bangunan yang telah berumur tua dan fungsi Vihara Tri Dharma Bumi Raya sebagai pusat dari penyembahan para Tatung/ Louya kepada dewa-dewa dalam setiap Perayaan Cap Go Meh.
Selain itu, Vihara Tri Dharma Bumi Raya juga menjadi salah satu ikon Kota Singkawang. Ikon ini muncul seiring dengan usia Vihara Tri Dharma Bumi Raya yang telah mengiringi perkembangan Kota Singkawang. Belajar sejarah Singkawang terasa kurang lengkap tanpa berkunjung ke Vihara Tri Dharma Bumi Raya
Makam Pangeran Iranata (Astane Raja Tanjungpura Pangeran Iranata)
Kabupaten Ketapang


A. Selayang Pandang
Pangeran Iranata adalah putra sulung Panembahan Giri Kesuma, raja muslim pertama di Kerajaan Tanjungpura. Karena pecah perselisihan di kalangan pejabat istana, Pangeran Iranata memilih keluar dari lingkaran kekuasaan. Bersama dengan keluarganya, Pangeran Iranata menyusuri sungai Pawan hingga tiba di sebuah daerah yang kini dikenal dengan nama Sembelengan atau Desa Negeri Baru. Di sini, dia mendirikan sebuah permukiman dan bermastautin hingga akhir hayatnya. Di tempat ini pula Pangeran Iranata dikebumikan.
Kompleks permakaman Pangeran Iranata menjadi magnet bagi para arkeolog karena diduga menyimpan banyak artefak. Ada beberapa tim peneliti, baik dari luar maupun dalam negeri, yang pernah melakukan penelitian di kompleks permakaman ini. Salah satunya adalah tim peneliti dari Banjarmasin yang melakukan penelitian selama 12 hari pada tahun 2007. Tim ini berhasil menemukan beberapa artefak seperti perabotan keramik, relief bermotif bunga, dan relief kaki arca yang menempel pada dinding bata merah.
Pada awalnya, tim peneliti dari Banjarmasin menemukan puing-puing bata merah dan keramik kuno yang berserakan di sekitar lokasi yang kemudian dijadikan sebagai lokasi penggalian. Tim itu kemudian mengembangkan penggalian dan menemukan struktur bangunan yang kemudian dipastikan merupakan pintu masuk sebuah candi. Pada pintu masuk itu, terdapat relief arca dan ukiran bunga.
Selain candi, tim peneliti itu juga berhasil menemukan struktur puing lingga dan pecahan lumpang atau lesung batu. Lingga yang merupakan lambang pemujaan peradaban Hindu kuno tersebut mempunyai ukuran yang cukup besar dengan bagian atas yang telah patah. Berbagai benda yang ditemukan tersebut tersebar dalam radius yang cukup luas, yaitu 100 – 200 m².
B. Keistimewaan
Kawasan Makam Pangeran Iranata ini terkenal dengan artefak peninggalan kebudayaan Hindu berupa candi yang terbuat dari batu merah. Selain itu, di makam ini juga terdapat pecahan keramik dari Dinasti Ming di Cina, Thailand, dan Belanda pada abad ke-18, batu purba, dan kuburan kuno dengan arsitektur Islam. Penemuan berbagai benda bersejarah tersebut tentunya menjadi nilai tersendiri bagi kekayaan sejarah, terutama artefak, di Kabupaten Ketapang.
Selain di dalam kompleks Makam Pangeran Iranata yang menyimpan banyak peninggalan sejarah, masyarakat di sekitar lokasi permakaman juga pernah menemukan nisan kuno di luar kompleks permakaman. Nisan ini ditemukan oleh masyarakat sekitar 300 m di luar kompleks Makam Pangeran Iranata.
Berbeda dengan nisan yang ada di Makam Keramat Tujuh maupun Keramat Sembilan, nisan ini terbuat dari kayu. Sekilas nisan tersebut mirip dengan lambang matahari milik Kerajaan Majapahit. Akan tetapi bentuknya agak berbeda karena sebagian sudah lapuk dimakan usia. Tetapi dapat dipastikan bahwa makam kuno yang berada di bawah nisan tersebut adalah makam seorang wanita muslim. Hal itu dapat dilihat dari ukirannya yang sangat indah dan penuh sehingga nampak unik.
Ditemukannya nisan (makam kuno) di luar area permakaman Pangeran Iranata semakin menambah minat para peneliti untuk datang ke lokasi ini. Faktor melimpahnya artefak sejarah menjadikan lokasi ini semakin mendapatkan tempat sebagai sebuah tempat kajian arkeologis.
C. Lokasi
Makam Pangeran Iranata terletak di Desa Negeri Baru, Kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang atau sekitar 5 km dari pusat kota Ketapang.
D. Harga Tiket
Pengunjung yang akan berziarah ke Makam Pangeran Iranata tidak dipungut biaya masuk.
E. Akses
Lokasi Makam Pangeran Iranata dapat dicapai sekitar 20 menit dengan mobil dari Keraton Kerajaan Matan atau 25 menit dari pusat kota Ketapang.
F. Fasilitas dan Akomodasi Lainnya
Para pengunjung yang ingin mendapatkan informasi seputar makam bisa menghubungi juru kunci makam yang tinggal tidak jauh dari makam.